Syawir "Dalil Perayaan Maulid Nabi"
👦Pertanyaan
Assalamualaikum, Adakah dalil tentang perayaan maulid nabi?
💞Jawaban
Waalaikum salam
===================
Jika perayaan maulid itu dianggap ibadah, Adakah diantara para shahabat yang pernah melakukannya ?
====================
#Sanggahan :
Tidak ada diantara para shahabat yang melakukan perayaan Maulid, namun demikian tidak semua yang tidak dilakukan shahabat kemudian tidak boleh dilakukan oleh generasi setelahnya, buktinya Imam Syafi'i melakukan ibadah yang tidak dilakukan oleh shahabat tidak pula dicontohkan Nabi, yaitu menghatamkan Al-Quran sebanyak 60 kali di bulan Ramadlan dan semuanya beliau baca di dalam shalat, ini keterangannya lengkap dari sumber kitab aslinya dengan redaksi arab beserta terjemahnya biar antum percaya
Memang
Berarti pemahaman antum tidak sesuai dengan konsep Imam Syafi'i, lalu pemahaman siapa yang lebih mendekati kebenaran antara pendapat antum dan beliau ? Tahu sendirikan jawabannya ?
=======================
Jika tidak pernah, mengapa mereka tidak melakukannya ?
=======================
#Sanggahan :
Yang antum maksud mereka itu kan kami-kami yang suka merayakan maulid itu kan ?
Ya berarti kami masih cukup cerdas untuk memilih konsep Imam Syafi'i dan ulama' menganjurkan perayaan maulid ketimbang memilih pendapat antum atau imam antum.
Karena di dalam perayaan maulid yang kami lakukan adalah ibadah seperti sedekah, membaca shalawat, membaca riwayat hidup nabi, masak jenis-jenis ibadah semacam ini juga perlu dalil juga ?
Kok ya kebangetan ini.
=======================
Apakah ini berarti tidak mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
=======================
#Sanggahan :
Memang siapa yang meragukan kecintaan shahabat kepada Nabi ?
Nabi sendiri kan sudah bersabda bahwa kurun shahabat adalah kurun terbaik setelah kurun Beliau, ya nggak mungkin lah hanya karena mereka tidak merayakan maulid, kami menganggap mereka tidak cinta Nabi, lagian siapa yang menganggap kalau tidak merayakan maulid itu berarti tidak cinta Nabi ? Banyak cara yang bisa dilakukan sebagai refleksi kecintaan terhadap Baginda Nabi, termasuk dianyaranya dalah merayakan maulid.
Yang patut dipertanyakan itu apabila ada sekelompok orang di zaman NOW yang inkar dan bencinya sampai ubun-ubun terhadap perayaan maulid, hingga tiap tahun tak bosan-bosannya menyalahkan dan membid'ah-bid'ahkannya kayak gak ada pekerjaan lain aja, padahal juga tahu bahwa banyak ulama yang menilai bahwa perayaan maulid bagian dari ibadah selama diakukan dengan cara-cara yang mengandung nilai ibadah.
=====================
Setiap insan yang beriman mesti akan mengatakan bahwa para shahabat itu adalah orang-orang yang sangat mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka siap berkorban apa saja demi mendukung dan membela Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
====================
#Sanggahan :
La iya, memang siapa yang menganggap para shahabat tidak mencintai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallama ?
=====================
Mereka juga sudah mengetahui sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mewajibkan pengikutnya untuk mendahulukannya cinta kepadanya di atas cinta-cinta kepada semua makhluk, termasuk kepada dirinya sendiri.
=====================
#Sanggahan :
Iya memang seperti itu terus....
=====================
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak akan sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai ia menjadikan aku lebih dia cintai daripada cintanya kepada anak, orang tua dan semua manusia. [HR Bukhâri]
===================
#Sanggahan :
Yah, sepakat terjemah haditsnya cukup bagus, kami bisa menghadirkan redaksi haditsnya kesini tapi tak usahlah itu tidak penting, memang ada apa dengan hadits itu ?
==================
Jika perayaan maulid itu merupakan salah satu cara mengungkapkan cinta yang dibenarkan dalam syari’at tentu mereka sudah melakukannya.
=================
#Sanggahan :
Nah, ini letak kesalahan kesimpulan antum, justru karena menurut kami perayaan maulid adalah salah satu cara mengungkapkan cinta kepada Nabi, makanya tidak harus dilakukan, kan salah satu cara bukan satu-satunya cara.
Banyak cara bisa dilakukan yaitu dengan melaksanakan hal-hal yang mengandung nilai ibadah seperti sedekah, membaca shalawat, membaca riwayat hidup Nabi dan ibadah-ibadah lain sebagai wujud kecintaan kepada Nabi, dan itulah merupakan esensi dari perayaan Maulid.
=================
Ketiadaan perayaan maulid nabi pada saat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat menunjukkan bahwa perayaan itu tidak termasuk cara yang benar dalam mengekspresikan cinta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
================
#Sanggahan :
Kesimpulan semacam di atas jelas tidak sesuai dengan pemahaman imam syafi'i Radliyallahu ‘anhu, sebagaimana tanggapan di atas.
Terkait perayaan Maulid banyak diantara Ulama' yang menilainya sebagai ibadah selama dilaksanakn dengan cara-cara syar'i sebagaimana di atas.
Kayaknya antum perlu tahu bahwa esensi perayaan Maulid adalah bersyukur kepada Allah atas lahirnya Baginda Nabi dan ungkapan kecintaan kepada Beliau dengan melakukan ibadah-ibadah sebagaimana di atas itu.
Nabi sendiri juga melakukan ibadah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau yaitu dengan melakukan ibadah puasa pada hari senin.
Apa perlu dihadirkan kesini teks hadits beserta terjemahnya ?
Okelah kalau begitu.
Coba deh antum renungkan, kenapa Nabi saat ditanya tentang puasa hari senin beliau menjawab dengan mengkaitkan hari kelahiran bukan dengan jawaban lain.
Sekarang antum sepakat tidak kalau puasa hari senin mengandung nilai perayaan hari kelahiran Nabi sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah ?. Kalau antum sepakat kenapa harus ingkar dan benci dengan perayaan maulid yang kami laksanakan, apa karena jenis ibadahnya yang beda ? Atau karena pilihan time-ngnya saja yang beda ?
================
Jika para Shahabat Nabi (semisal Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dll) tidak merayakan Maulid Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam lantaran karena mereka sangat mencintai beliau, maka saksikanlah bahwa kami juga tidak merayakan Maulid Nabi lantaran mengikuti mereka (para shahabat) sebagai bentuk cinta kami kepada beliau shalallahu alaihi wasallam.
================
#Sanggahan :
Pemahaman ini yang mestinya antum pertanggung jawabkan dari mana sumbernya yang mengatakan : bahwa para shahabat tidak merayakan maulid iti alasannya adalah lantaran karena mereka sangat mencintai Nabi.
Masak tidak merayakan Maulid alasannya kerena mencintai Nabi, apa kalau merayakannya berarti menyakiti Nabi ? Apa karena Nabi tidak mencontohkannya ?
Kalau itu alasannya kenapa dizaman kholifah Umar baru terjadi pengerahan jama'ah besar-besaran untuk melaksanakan shalat tarawih selama di bulan Ramadlan padahal Nabi tidak mencontohkan. Kenapa pula baru di zaman kholifah Utsman baru terjadi penambahan satu Adzan untuk pelaksanaan shalat jum'at dan itu juga tidak dicontohkan Nabi.
Ah, ada aja antum ini.
================
Jika mereka (para shahabat Nabi) sudah dijamin masuk surga oleh Allah dan dijamin sebagai manusia terbaik sedangkan mereka tidak pernah merayakan Maulid Nabi, maka saksikanlah bahwa kami tidak akan pernah merayakan Maulid Nabi agar kami bisa dimudahkan oleh Allah untuk bisa masuk surga seperti mereka (para shahabat) insya Allah.
================
#Sanggahan :
Pemahaman ini juga kudu ada dalilnya, dan insya Allah sampek hari kiamat kurang seminggu tidak akan ketemu dalil yang mengatakan bahwa cara agar dimudahkan oleh Allah masuk surga yaitu dengan meninggalkan perayaan Maulid.
Kalau menurut antum meninggalkan perayaan Maulid adalah ibadah agar dimudahkan masuk surga sementara alasannya hanya karena para shahabat tidak melakukannya, coba deh renungkan dulu!, bagaimana dengan ibadah imam syafi'i yang Beliau laksanakan sebagaimana keterangan di atas, padahal para shahabat tidak ada yang melakukannya.
Atau jangan-jangan imam Syafi'i menurut antum ahli neraka juga karena melakukan ibadah yang tidak dicontohkan para sahabat.
Yah.. berarti benar kata orang yang ahli surga itu hanya antum dan yang sependapat dengan antum yang lain neraka semua, gitu ya ?.
Ma Sya Allah, antum memang luar biasa sudah bisa jualan surga rupanya.
================
Jika mereka (pecinta Maulid) mengatakan: “Merayakan Maulid Nabi adalah bentuk rasa cinta kepada Nabi Muhammad”,
Maka kami juga bisa mengatakan, “Melaksanakan dan mengikuti perintah Nabi seperti menjaga shalat 5 waktu dengan berjamaah di masjid, memelihara jenggot, memendekkan pakaian diatas mata kaki bagi laki2, berhijab syari bagi wanita, dsb adalah bentuk cinta kepada Nabi yang sebenarnya.”
================
#Sanggahan:
Kami katakan “Melaksanakan dan mengikuti perintah Nabi seperti menjaga shalat 5 waktu dengan berjamaah di masjid, memelihara jenggot, memendekkan pakaian diatas mata kaki bagi laki2, berhijab syari bagi wanita, dsb adalah bentuk cinta kepada Nabi yang sebenarnya”, ditambah satu lagi yaitu merayakan maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallama.
Yang tidak merayakan maulid kami hormati pendapatnya, namun yang ingkar dan sangat membencinya kami mempertanyakannya.
Yang terakhir, coba cari dulu dalil antum yang mengatakan bahwa cara agar dimudahkan masuk surga adalah dengan meninggalkan maulid dan setelah ketemu silahkan di cocokkan dengan ibadah Imam syafi'i di atas !, kalau kesimpulannya Imam syafi'i yang salah berarti kayaknya antum yang perlu diluruskan pemahamannya.
Sekian semoga bermanfaat
By : Memory Santri
💞Jawaban
Waalaikum salam
Copas status dari ustadz Ali Romzi
Saya tanggapi setatus, semoga sampai ke shohibul status aslinya, Sahabat Alamin Ditias Salafi===================
Jika perayaan maulid itu dianggap ibadah, Adakah diantara para shahabat yang pernah melakukannya ?
====================
#Sanggahan :
Tidak ada diantara para shahabat yang melakukan perayaan Maulid, namun demikian tidak semua yang tidak dilakukan shahabat kemudian tidak boleh dilakukan oleh generasi setelahnya, buktinya Imam Syafi'i melakukan ibadah yang tidak dilakukan oleh shahabat tidak pula dicontohkan Nabi, yaitu menghatamkan Al-Quran sebanyak 60 kali di bulan Ramadlan dan semuanya beliau baca di dalam shalat, ini keterangannya lengkap dari sumber kitab aslinya dengan redaksi arab beserta terjemahnya biar antum percaya
حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ج 9 ص 134
للشيخ أبو نعيم أحمد ابن عبد الله بن أحمد بن إسحاق بن موسى بن مهران الأصبهاني المتوفى : 430 هــ .
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻋَﻠِﻲٍّ ﺑْﻦِ ﺣُﺴَﻴْﻦٍ، ﺛَﻨَﺎ اﻟْﺤَﺴَﻦُ ﺑْﻦُ ﻋَﻠِﻲٍّ اﻟْﺠَﺼَّﺎﺹِ، ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌْﺖُ اﻟﺮَّﺑِﻴْﻊَ ﺑْﻦَ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ، ﻳَﻘُﻮْﻝُ: «ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﺇﺩِﺭِﻳْﺲَ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ﻳَﺨْﺘِﻢُ ﻓِﻲْ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺳِﺘِّﻴْﻦَ ﺧَﺘْﻤَﺔً ﻣَﺎ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﻲْءٌ ﺇِﻻَّ فِيْ ﺻَﻼَﺓٍ».
Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ali bin Husain, telah bercerita kepadaku al-hasan bin Ali al-jashash berkata : aku mendengar Rabi' bin Sulaiman berkata : adalah Muhammad bin Idris al-Syafi'i, dia mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadlan sebanyak 60 kali, dan tidak ada sedikitpun dari bacaan tersebut kecuali dilakukan di dalam Shalat.للشيخ أبو نعيم أحمد ابن عبد الله بن أحمد بن إسحاق بن موسى بن مهران الأصبهاني المتوفى : 430 هــ .
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻋَﻠِﻲٍّ ﺑْﻦِ ﺣُﺴَﻴْﻦٍ، ﺛَﻨَﺎ اﻟْﺤَﺴَﻦُ ﺑْﻦُ ﻋَﻠِﻲٍّ اﻟْﺠَﺼَّﺎﺹِ، ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌْﺖُ اﻟﺮَّﺑِﻴْﻊَ ﺑْﻦَ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ، ﻳَﻘُﻮْﻝُ: «ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﺇﺩِﺭِﻳْﺲَ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ﻳَﺨْﺘِﻢُ ﻓِﻲْ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺳِﺘِّﻴْﻦَ ﺧَﺘْﻤَﺔً ﻣَﺎ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﻲْءٌ ﺇِﻻَّ فِيْ ﺻَﻼَﺓٍ».
Memang
Berarti pemahaman antum tidak sesuai dengan konsep Imam Syafi'i, lalu pemahaman siapa yang lebih mendekati kebenaran antara pendapat antum dan beliau ? Tahu sendirikan jawabannya ?
=======================
Jika tidak pernah, mengapa mereka tidak melakukannya ?
=======================
#Sanggahan :
Yang antum maksud mereka itu kan kami-kami yang suka merayakan maulid itu kan ?
Ya berarti kami masih cukup cerdas untuk memilih konsep Imam Syafi'i dan ulama' menganjurkan perayaan maulid ketimbang memilih pendapat antum atau imam antum.
Karena di dalam perayaan maulid yang kami lakukan adalah ibadah seperti sedekah, membaca shalawat, membaca riwayat hidup nabi, masak jenis-jenis ibadah semacam ini juga perlu dalil juga ?
Kok ya kebangetan ini.
=======================
Apakah ini berarti tidak mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
=======================
#Sanggahan :
Memang siapa yang meragukan kecintaan shahabat kepada Nabi ?
Nabi sendiri kan sudah bersabda bahwa kurun shahabat adalah kurun terbaik setelah kurun Beliau, ya nggak mungkin lah hanya karena mereka tidak merayakan maulid, kami menganggap mereka tidak cinta Nabi, lagian siapa yang menganggap kalau tidak merayakan maulid itu berarti tidak cinta Nabi ? Banyak cara yang bisa dilakukan sebagai refleksi kecintaan terhadap Baginda Nabi, termasuk dianyaranya dalah merayakan maulid.
Yang patut dipertanyakan itu apabila ada sekelompok orang di zaman NOW yang inkar dan bencinya sampai ubun-ubun terhadap perayaan maulid, hingga tiap tahun tak bosan-bosannya menyalahkan dan membid'ah-bid'ahkannya kayak gak ada pekerjaan lain aja, padahal juga tahu bahwa banyak ulama yang menilai bahwa perayaan maulid bagian dari ibadah selama diakukan dengan cara-cara yang mengandung nilai ibadah.
=====================
Setiap insan yang beriman mesti akan mengatakan bahwa para shahabat itu adalah orang-orang yang sangat mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka siap berkorban apa saja demi mendukung dan membela Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
====================
#Sanggahan :
La iya, memang siapa yang menganggap para shahabat tidak mencintai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallama ?
=====================
Mereka juga sudah mengetahui sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mewajibkan pengikutnya untuk mendahulukannya cinta kepadanya di atas cinta-cinta kepada semua makhluk, termasuk kepada dirinya sendiri.
=====================
#Sanggahan :
Iya memang seperti itu terus....
=====================
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak akan sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai ia menjadikan aku lebih dia cintai daripada cintanya kepada anak, orang tua dan semua manusia. [HR Bukhâri]
===================
#Sanggahan :
Yah, sepakat terjemah haditsnya cukup bagus, kami bisa menghadirkan redaksi haditsnya kesini tapi tak usahlah itu tidak penting, memang ada apa dengan hadits itu ?
==================
Jika perayaan maulid itu merupakan salah satu cara mengungkapkan cinta yang dibenarkan dalam syari’at tentu mereka sudah melakukannya.
=================
#Sanggahan :
Nah, ini letak kesalahan kesimpulan antum, justru karena menurut kami perayaan maulid adalah salah satu cara mengungkapkan cinta kepada Nabi, makanya tidak harus dilakukan, kan salah satu cara bukan satu-satunya cara.
Banyak cara bisa dilakukan yaitu dengan melaksanakan hal-hal yang mengandung nilai ibadah seperti sedekah, membaca shalawat, membaca riwayat hidup Nabi dan ibadah-ibadah lain sebagai wujud kecintaan kepada Nabi, dan itulah merupakan esensi dari perayaan Maulid.
=================
Ketiadaan perayaan maulid nabi pada saat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat menunjukkan bahwa perayaan itu tidak termasuk cara yang benar dalam mengekspresikan cinta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
================
#Sanggahan :
Kesimpulan semacam di atas jelas tidak sesuai dengan pemahaman imam syafi'i Radliyallahu ‘anhu, sebagaimana tanggapan di atas.
Terkait perayaan Maulid banyak diantara Ulama' yang menilainya sebagai ibadah selama dilaksanakn dengan cara-cara syar'i sebagaimana di atas.
Kayaknya antum perlu tahu bahwa esensi perayaan Maulid adalah bersyukur kepada Allah atas lahirnya Baginda Nabi dan ungkapan kecintaan kepada Beliau dengan melakukan ibadah-ibadah sebagaimana di atas itu.
Nabi sendiri juga melakukan ibadah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau yaitu dengan melakukan ibadah puasa pada hari senin.
Apa perlu dihadirkan kesini teks hadits beserta terjemahnya ?
Okelah kalau begitu.
ﻗَﺎﻝَ: ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﺻَﻮْﻡِ ﻳَﻮْﻡِ اْﻻِﺛْﻨَﻴْﻦِ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﺫَاﻙَ ﻳَﻮْﻡُ ﻭُﻟِﺪْﺕُ ﻓِﻴْﻪِ، ﻭَﻳَﻮْﻡُ ﺑُﻌِﺜْﺖُ . الْحَدِيْثَ ...رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dan Nabi ditanya tentang puasa pada hari senin, Nabi menjawab : Puasa hari senin itu adalah puasa pada hari aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus. HR. MUSLIMCoba deh antum renungkan, kenapa Nabi saat ditanya tentang puasa hari senin beliau menjawab dengan mengkaitkan hari kelahiran bukan dengan jawaban lain.
Sekarang antum sepakat tidak kalau puasa hari senin mengandung nilai perayaan hari kelahiran Nabi sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah ?. Kalau antum sepakat kenapa harus ingkar dan benci dengan perayaan maulid yang kami laksanakan, apa karena jenis ibadahnya yang beda ? Atau karena pilihan time-ngnya saja yang beda ?
================
Jika para Shahabat Nabi (semisal Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dll) tidak merayakan Maulid Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam lantaran karena mereka sangat mencintai beliau, maka saksikanlah bahwa kami juga tidak merayakan Maulid Nabi lantaran mengikuti mereka (para shahabat) sebagai bentuk cinta kami kepada beliau shalallahu alaihi wasallam.
================
#Sanggahan :
Pemahaman ini yang mestinya antum pertanggung jawabkan dari mana sumbernya yang mengatakan : bahwa para shahabat tidak merayakan maulid iti alasannya adalah lantaran karena mereka sangat mencintai Nabi.
Masak tidak merayakan Maulid alasannya kerena mencintai Nabi, apa kalau merayakannya berarti menyakiti Nabi ? Apa karena Nabi tidak mencontohkannya ?
Kalau itu alasannya kenapa dizaman kholifah Umar baru terjadi pengerahan jama'ah besar-besaran untuk melaksanakan shalat tarawih selama di bulan Ramadlan padahal Nabi tidak mencontohkan. Kenapa pula baru di zaman kholifah Utsman baru terjadi penambahan satu Adzan untuk pelaksanaan shalat jum'at dan itu juga tidak dicontohkan Nabi.
Ah, ada aja antum ini.
================
Jika mereka (para shahabat Nabi) sudah dijamin masuk surga oleh Allah dan dijamin sebagai manusia terbaik sedangkan mereka tidak pernah merayakan Maulid Nabi, maka saksikanlah bahwa kami tidak akan pernah merayakan Maulid Nabi agar kami bisa dimudahkan oleh Allah untuk bisa masuk surga seperti mereka (para shahabat) insya Allah.
================
#Sanggahan :
Pemahaman ini juga kudu ada dalilnya, dan insya Allah sampek hari kiamat kurang seminggu tidak akan ketemu dalil yang mengatakan bahwa cara agar dimudahkan oleh Allah masuk surga yaitu dengan meninggalkan perayaan Maulid.
Kalau menurut antum meninggalkan perayaan Maulid adalah ibadah agar dimudahkan masuk surga sementara alasannya hanya karena para shahabat tidak melakukannya, coba deh renungkan dulu!, bagaimana dengan ibadah imam syafi'i yang Beliau laksanakan sebagaimana keterangan di atas, padahal para shahabat tidak ada yang melakukannya.
Atau jangan-jangan imam Syafi'i menurut antum ahli neraka juga karena melakukan ibadah yang tidak dicontohkan para sahabat.
Yah.. berarti benar kata orang yang ahli surga itu hanya antum dan yang sependapat dengan antum yang lain neraka semua, gitu ya ?.
Ma Sya Allah, antum memang luar biasa sudah bisa jualan surga rupanya.
================
Jika mereka (pecinta Maulid) mengatakan: “Merayakan Maulid Nabi adalah bentuk rasa cinta kepada Nabi Muhammad”,
Maka kami juga bisa mengatakan, “Melaksanakan dan mengikuti perintah Nabi seperti menjaga shalat 5 waktu dengan berjamaah di masjid, memelihara jenggot, memendekkan pakaian diatas mata kaki bagi laki2, berhijab syari bagi wanita, dsb adalah bentuk cinta kepada Nabi yang sebenarnya.”
================
#Sanggahan:
Kami katakan “Melaksanakan dan mengikuti perintah Nabi seperti menjaga shalat 5 waktu dengan berjamaah di masjid, memelihara jenggot, memendekkan pakaian diatas mata kaki bagi laki2, berhijab syari bagi wanita, dsb adalah bentuk cinta kepada Nabi yang sebenarnya”, ditambah satu lagi yaitu merayakan maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallama.
Yang tidak merayakan maulid kami hormati pendapatnya, namun yang ingkar dan sangat membencinya kami mempertanyakannya.
Yang terakhir, coba cari dulu dalil antum yang mengatakan bahwa cara agar dimudahkan masuk surga adalah dengan meninggalkan maulid dan setelah ketemu silahkan di cocokkan dengan ibadah Imam syafi'i di atas !, kalau kesimpulannya Imam syafi'i yang salah berarti kayaknya antum yang perlu diluruskan pemahamannya.
Sekian semoga bermanfaat
By : Memory Santri
Comments
Post a Comment